1. Pandangan Kolb Terhadap Belajar
motivasi dan pengalaman emosional sangat penting dalam peristiwa belajar, sebab tanpa motivasi dan keinginan dari pihak yang akan belajar maka tidak akan terjadi asimilasi pengetahuan baru ke dalam struktur kognitif yang telah dimilikinya. Teori humanistik berpendapat bahwa teori belajar apapun dapat dimanfaatkan, asal tujuannya untuk memanusiakan manusia, maksudnya adalah: mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri orang yang belajar secara optimal.
Manusia adalah makhluk yang kompleks, banyak ahli di dalam menyusun teorinya hanya terpukau pada aspek tertentu yang sedang menjadi pusat perhatiannya. Setiap ahli melakukan penelitiannya dari sudut pandangnya masing-masing dan menganggap bahwa keterangannya tentang bagaimana manusia itu belajar adalah sebagai keterangan yang paling memadai.
Dari penalaran di atas ternyata bahwa perbedaan antara pandangan yang satu dengan pandangan yang lain sering kali hanya timbul karena perbedaan penekanan pandangan semata. Jadi pandangan yang berbeda-beda itu hanyalah mengenai hal yang satu dan sama dipandang dari sudut yang berlainan. Dengan demikian teori humanistik dengan pandangannya yang sangat manusiawi, yaitu dengan cara memanfaatkan atau merangkumkan berbagai teori belajar dengan tujuan untuk memanusiakan manusia bukan saja mungkin untuk dilakukan, tetapi justru harus dilakukan. Banyak tokoh penganut aliran humanistik, di antaranya adalah Kolb (Rene: 1996) yang terkenal dengan “Belajar Empat Tahap”nya, Honey dan Mumford dengan pembagian tentang macam-macam siswa, Hubermas dengan “Tiga Macam Tipe Belajar”nya, serta Bloom dan Krathwohl yang terkenal dengan “Taksonomi Bloom”nya.
Kolb (Rene: 1996) seorang ahli penganut aliran humanistik membagi tahap-tahap belajar menjadi empat tahap, yaitu: (1) tahap pengalaman konkret, (2) tahap pengamatan aktif dan reflektif, (3) tahap konseptualisasi, dan (4) tahap eksperimentasi aktif.
Comments
Post a Comment